Cerita Sex Bukan Untuk Cabul

Where Your Sex Fantasy Begun
bloger

Misteri Bokep - Selamat Ulang Tahun

SELAMAT ULANG TAHUN !



“Kyaaaaaaaaaaaaaa”

Munculnya sang mentari disambut jeritan wanita berpakaian serba hitam.Suaranya menggema di lembah yang mengelilingi taman tempatnya berdiri.Udara dingin menusuk, tetapi wajah Si Wanita terlihat merah seolah terbakar.Panas! Tegang! Bagaimana tidak,beberapa menit yang lalu ketika dia sedang enak-enaknya merenggangkan badan sambil menghirup udara segar .Tiba-tiba di depanya melintas seorang gadis berpakaian berantakan, berjalan sempoyongan dengan wajah pucat seperti mayat.Masih terbayang di benaknya,tatapan mata tak bersahabat si gadis.Meskipun beradu pandang hanya sesaat,wanita itu dapat melihat pancaran mata tanpa emosi dan penuh rasa putus asa. Gadis itu menyeret langkah dengan bibir bergetar hebat kemudian mencengkram tembok pembatas dan naik.

Buuuuuggg sreeek sreeekkk

Dalam hitungan detik,gadis itu lenyap.Hanya menyisakan suara bergedebuk .Tubuh gadis itu sudah berguling di lereng curam yang dipenuhi semak dan pohon besar.Si wanita hanya mampu menatap kosong ke tempat gadis itu meloncat.Tubuhnya bergetar hebat dan tak bergerak.Hanya teriakan pilunya yang sempat mengiringi. Semua terjadi begitu cepat.Samar-samar dia mendengar derap langkah di belakangnya, wanita itu menoleh.Seorang pemuda dengan wajah tak kalah pucat berlari ke arahnya.

“Mbak.. apa liat orang ke sini ?.. pake baju putih dan....”

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan ucapan,tangan si wanita terangkat dan menunjuk ke arah gadis itu terjun.

“Ddiiia.. loncat ..” ucap si wanita terbata-bata.

Si pemuda panik,dia memegang tembok pembatas setinggi 1,5 meter yang di tunjuk si wanita,kemudian menunduk,menggerakan kepala ke kiri dan ke kanan dengan cepat.Berkonsentrasi pada indera pengelihatanya,namun yang dicarinya tidak tampak.Hanya terlihat semak yang patah dan pohon-pohon besar menyeramkan.Pemuda itu bergidik,lereng itu sungguh curam.Kalau manusia jatuh ke sana,kemungkinan akan hilang dan susah di cari.Dia hendak naik ke tembok tetapi mengurungkan niat kearena orang-orang mulai berdatangan mengerumuninya.Pemuda itu bercerita dengan memperlihatkan gestur tubuh linglung dan menunjuk ke arah lembah.Orang yang mendengarkan kebanyakan hanya melonggo kebingungan.

Si pemuda merasa putus asa dan bergerak keluar dari kerumunan orang, kemudian duduk bersandar di tembok pembatas.Dia mengatur nafasnya yang tersengal.Kedua telapak tanganya bergerak menutupi wajah.Bahunya berguncang.Dia menangis sesegukan sambil menghentak-hentakan kaki.Selang beberapa menit dia mendengar suara orang berteriak ke arahnya.Pemuda itu mengangkat kepala.Dia melihat orang-orang mengerumuni sesuatu.Dia berdiri, kemudian berlari sambil mengusap air mata,dengan terburu-buru menerobos kerumunan orang.

Pemandangan di depannya membuat pemuda itu memejamkan mata.Tanah yang di pijaknya seolah berputar cepat.Dia sebisa mungkin mempertahankan agar tubuhnya tidak rubuh dan mencoba menenangkan perasaan yang campur aduk.Dia menarik nafas dalam kemudian memberanikan diri membuka mata.Hatinya merasa teriris melihat gadis yang terbaring di rumput.Kepala gadis itu berada di pangkuan seorang lelaki tua.Pakaiannya robek dan tubuhnya penuh luka.Matanya terpejam,kepalanya lunglai dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

“Dia nyangkut di semak-semak,kalau terus meluncur turun,entah bagaimana cara menemukanya” ucap lelaki itu.

“Aaa..apa.. dia baik-baik saja ?” ucap si pemuda dengan suara bergetar.

“Kita harus bawa dia ke RS..,nafasnya lemah sekali “ ucap lelaki itu sambil mengangkat tubuh si gadis. Gadis itu mengerang lemah tanpa membuka mata. Terbersit secercah harapan di wajah si pemuda.

“Saya ikut !” teriak si pemuda tanpa sadar,si lelaki memandangnya sangsi.”Saya pacarnya..!” ucap si pemuda tegas.Lelaki itu menganguk.Mereka bergegas masuk ke dalam mobil yang berada tidak jauh dari sana.Mobil itu kemudian melaju cepat meninggalkan tempat itu.

Beberapa orang masih berkerumun di taman.Si wanita yang berpakaian hitam kini dikerumuni orang-orang.Wajahnya sudah tidak tegang,malah terlihat bersinar ceria.Dia bertingkah seperti artis dadakan yang sedang di kerubungi fans.

“Apa yang terjadi ?”

“Kenapa bisa seperti itu ?”

Wanita itu bercerita dengan antusias mengenai apa yang dilihatnya.Orang yang mendengar ceritanya menunjukan reaksi yang berbeda-beda.

“Tubuh gadis itu banyak luka aneh dan bekas cakar,aku sempat melihatnya ! “ seorang berucap dengan suara dibuat seseram mungkin.

“Ahhhh...palingan dia kena kutukan Sang Putri! Ngeyel sih,kemarin sudah Saya peringatkan tetapi enggak mau denger.Dasar anak kota !” ucap seorang wanita.

 

 

[​IMG]

 

^^^^^^

*****​


September 2017

“WOW !! “

Aku takjub.Sungguh mengangumkan pemandangan di depanku,wanita dengan kecantikan luar biasa.Dia berdiri tegak. Tangan kanannya lurus ke depan dan memegang selendang berwarna emas,sementara tangan kirinya menekuk dan berkacak pinggang.Dua ekor anjing yang gagah mengapit wanita itu.Kami berjarak sekitar 5 meter.Aku terpaksa menengadahkan kepala untuk menatapnya karena tingginya hampir 3 kali tinggi tubuhku.Bukan karena aku pendek,tapi karena dia memang tinggi.

Wanita itu tidak bergerak sama sekali.Yap! Dia hanyalah karya seni.Sebuah patung wanita dengan bentuk tubuh hampir sempurna,mengalahkan keindahan wanita yang pernah aku lihat di dunia nyata.Patung yang terbuat dari material utama benda keras dan dikombinasi dengan berbagai macam penghias lain itu berdiri di atas sebuah bangunan berbentuk kotak yang dihias ukiran tradisonal yang indah. Ada tulisan cukup besar ‘REINKARNA’ di tengahnya.Reinkarna adalah nama orang yang di gambarkan patung tersebut.Konon,wanita cantik itu dahulu pernah hidup di sana.Dia adalah putri seorang raja.

Saat ini,aku berlibur di Taman Indah yang terletak di dataran tinggi pulau Pasaki,pulau tempatku lahir.Sebuah pulau kecil yang dihuni sekitar 1 juta orang.Taman Indah adalah nama tempat, luasnya kira-kira 2,000 meter persegi,posisinya di puncak sebuah gunung bernama Gunung Kopi.Tempat ini masih alami.Ada banyak pohon besar dan juga semak-semak liar.Mungkin juga banyak ada binatang buas di dalam hutan.Aku menginap di sebuah penginapan kecil berjarak kurang lebih 300 meter dari sini.Kemarin aku memesan dua kamar.Satu untukku dan satu lagi untuk pacarku yang akan datang hari ini.

Rendra,itulah namaku.Aku seorang lelaki dan aku tidak meragukan hal itu.Aku tahu bedanya alat kelamin pria dan wanita.Tinggiku sekitar 180 cm.Umurku sebentar lagi 22 tahun.Aku tahu dari KTP-ku.Aku lahir tangal 6 september 1995.Tapi jangan salah,69 bukan angka favoritku.Aku tidak mau diangap lelaki mesum.

Aku mempunyai seorang pacar bernama Reine.Dia cantik,kalau tidak cantik, tidak mungkin kujadikan pacar .Aku tidak pernah mengukur tinggi badannya.Satu hal yang aku sukai yaitu dia lebih pendek dariku sedikit saja,sekitar 10 cm mungkin.Jadi, terasa nyaman ketika dia merebahkan kepala di bahuku.

Aku mengenal Reine dari kecil .Kami satu sekolah ketika SD,SMP,dan SMA.Koleksi fotoku sebagai buktinya.Kulit Reine putih dan bersih .Selain karena pembawaan lahir, juga karena dia rajin mandi dan merawat diri. Matanya indah dihiasi bulu mata yang lentik menambah kesan cantik pada dirinya,apalagi alisnya yang melengkung rapi.Alis yang sangat spesial bagiku, karena alis alami dan bukan hasil mengambar.Aku tidak suka wanita yang sering merubah bentuk alis dengan menggambar.Rambut Reine hitam dan lurus.

Reine,yang kadang kupanggil Rein,cukup lama mencerahkan hariku dengan pandangan matanya yang berbinar-binar.Aku suka senyum Reine ,apalagi tawanya yang menghipnotis sehingga aku tidak berkedip melihat deretan gigi putinya yang dibingkai bibir kemerahan nan tipis.Selain itu,aku begitu suka wajahnya yang mendadak mendung berawan ketika jengkel,sangat menggemaskan.

Bentuk tubuh Reine begitu menggoda.Perut rata dan pinggangnya ramping .Pantatnya juga agak menonjol ke belakang dan terangkat,aku tidak tahu apa sebutan itu.Ukuran payudara Reine aku tidak tahu.Aku tidak pernah mengukur atau menanyakan kepadanya.Aku juga belum pernah menyentuhnya.Meskipun begitu,tetap saja aku sering meliriknya.Dari luar baju ,kulihat cukup mengunung dan sepertinya sangat berisi dan kencang. Beberapa kali dia memeluku dari belakang dan aku merasakan ada sesuatu yang kenyal menempel di punggungku.

Kalau kupikir-pikir,keelokan tubuh Reine mungkin mirip dengan patung Putri Reinkarna yang berdiri anggun di depanku sekarang.Itu hanya pendapatku,karena aku mengagumi kedua wanita itu.Meskipun satu makhluk hidup dan satu lagi benda mati.Memikirkan hal tersebut,membuatku hampir lupa kalau pandangan mataku masih belum lepas dari patung itu dan leherku mulai terasa sakit.

“Huuuffffffttt” kuhembuskan nafas kuat, lalu aku menunduk,kugoyangkan kepala untuk mengurangi pegal di leher.Hawa dingin yang menelusup celah pakaian membuatku sedikit mengigil.Kupejamkan mata sambil menarik nafas dalam. Udara yang memenuhi Paru-paruku terasa begitu bersih,sangat berbeda dengan udara kota tempat tinggalku yang penuh polusi.

Selain keindahan patung Putri Reinkerna,pemandangan dari tempat ini juga sangat memukau.Di sebelah Timur terlihat deretan rapat pohon-pohon besar dan tinggi,sinar Matahari pagi berkilauan menembus celah-celahnya.Saat aku menghadap ke Selatan dan menunduk,aku bergidik karena di bawahku adalah lereng yang curam dipenuhi pohon dan semak.Tidak bisa kubayangkan apa jadinya kalau aku menggelinding ke sana.Untung saja,ada pembatas yang terbuat dari tembok kokoh,tingginya mungkin 1,5 meter.Tetapi saat aku memandang tegak jauh ke Selatan,aku merasa tentram.Terlihat garis pantai yang memisahkan laut dan daratan,sangat indah.

“Hmmm..masih lama” aku bergumam sambil melirik jam tangan.Sekarang masih jam 7 pagi dan aku berjanji dengan Reine jam 9.Sebenarnya,aku sudah tidak sabar bertemu denganya tapi aku bosan menunggu.Aku memutuskan untuk berjalan menjauh dari patung itu dan duduk di kursi kayu di ujung taman.Kusandarkan kepalaku sambil memejamkan mata.Aku merasa begitu nyaman sampai kesadaranku berkurang.

Suara orang-orang berbicara membuat kesadaranku kembali.Aku melirik ke jalan undakan di bawahku,kulihat beberapa orang berjalan menuju taman ini.Aku juga melihat ke arah taman ,ternyata tanpa kusadari sudah ada beberapa orang di sana.Aku sempat tertidur dan tanpa mimpi.Aku menguap dan mengucek mataku.Kuperhatikan lagi sekelilingku,Reine tidak ada.Kulirik jam tangan,ternyata belum jam 9.

Untuk menghilangkan bosan,aku mencoba mencari kegiatan lain.Ya,kegiatanku adalah mengamati orang-orang yang mengambil foto.Terutama di area patung Putri Reinkarna.Aku mulai mengamati pasangan muda mudi yang sekiranya berpacaran dan ternyata tidak ada satupun yang mengambil foto berduaan di samping patung Putri Reinkarna.Mereka hanya mengambil foto dengan patung sendiri-sendiri.Kalau bukan hanya Si Wanita ,ya Si Pria saja.

“Jangan berfoto bersama pacar di depan patung Sang Putri,itu akan menghancurkan hubungan kalian !! Kalian akan di kutuk!!“

Ucapan dari orang yang baru kukenal mengiang di telingaku.Aku teringat kejadian kemarin sore.
 

Kemarin sore

Aku baru saja check- in dan malas diam di kamar.Kuputuskan untuk duduk di bangku taman penginapan sambil melihat bunga yang bermekaran.Aku mengosok-gosokan jemari di tempat kumisku yang baru tercukur dan mulai tumbuh.Aku menyukai momen ketika jemariku di gelitik oleh ujung kumis yang agak tajam.Hal sepele yang memberi kenikmatan ganda bagiku.Kenikmatan di ujung jari dan kenikmatan di atas bibir.

“Nungguin siapa Mas ?“ suara seorang perempuan mengagetkanku.Otomatis aku menoleh ke arah datangnya suara.Tanpa kusadari seorang perempuan berdiri di dekatku.Aku hanya terdiam dan menatapnya.Perempuan itu berwajah manis dan menarik.

“Kaget ya ? maaf “ ucapnya lagi dengan menahan senyum.Aku membalas senyumnya sambil menggeser tubuh merapat ke ujung kursi.Dia mengerti maksudku dan langsung duduk di sebelahku.

“Iya Bu,agak kaget “ sahutku datar,meskipun jawabanku sepertinya agak terlambat.

“Panggil ‘Mbak’ saja ,jangan ‘Bu’, Saya masih muda” ucapnya sambil tersenyum manis.

“Oh Ok.... “ aku mangut-mangut. ”Bagi saya ’Mbak’ atau ‘Bu” sama saja..” ucapku melanjutkan.Aku yakin wanita itu lebih tua dariku.Terlihat jelas dari guratan di wajahnya.Penampilannya juga.Dia mengenakan jaket cukup tebal dan celana panjang,terksean sopan tapi memperlihatkan lekuk tubuh indah.

“Sendirian aja menginap di sini?”

“Iya...tapi besok pacar saya datang” ucapku dengan memberi tekanan pada kata ‘pacar’.Aku ingin dia tahu kalau aku sudah punya pacar sehingga dia tidak ada niat menggodaku.Aku bukannya ke PeDe-an.Tetapi siapa tahu? Bisa saja dia tertarik padaku.Jujur saja,banyak yang mengatakan kalau aku ini memiliki wajah ganteng dan menarik.Di tempat seperti ini,bisa saja ada wanita yang kesepian dan berniat mencari lelaki.

“Oooh...janjian di sini ya ?”

“Iya,ingin mengambil photo prewed juga Mbak”

“Oh ya ! Mau nikah? Selamat ya!”

“Nikahnya masih lama,sekarang ambil beberapa foto aja dulu,siapa tau nanti bisa di gabung dan menjadi foto prewed”

“Oh ide bagus! Mas asli mana ?”

“Saya dari kota Kayu Hitam, Mbak “

“Oh ,orang kota toh ?”

“Iya...Mbak orang sini ya ?”

“Enggak ,Saya pemandu wisata ,kebetulan ada janji ama temen”

“Oh, sering ke tempat ini ?”

“Hu’um” perempuan itu menganguk.Aku terdiam kehabisan bahan pembicaraan.Aku juga tidak mau berbicara terlalu detil dengan seorang wanita yang baru kukenal.Aku takut hubungan kami semakin jauh dan dia menanyakn hal yang bersifat semakin pribadi kepadaku.Jadi kuputuskan diam dan menunggu dia berbicara.

“Oh ya,apakah Mas sudah tahu kalau tidak boleh ambil foto dekat Sang Putri,Foto dengan pasangan !” suara akhirnya meluncur lagi dari bibirnya.

“Sang Putri ?”

“Patung Putri Reinkarna di Taman Indah,Mas belum lihat ya ? ”

“Belum Mbak ,saya baru sampai tadi sore.Kenapa tidak boleh ambil foto ?”

“Katanya kalau ada pasangan yang belum menikah mengambil photo berdua di sana,akan putus cinta karena kutukan Putri Reinkarna “

“Putus ?”

“Yups “

“Hanya karena mengambil foto di dekat dengan sebuah patung?”

“Yes !”

“Aneh! Dan Mbak percaya?”

“Hmmm.. entahlah,yang pasti saya tidak pernah mengambil foto dengan pasangan di sana” ucapnya sambil sedikit memonyongkan bibir.Selain bibir,kalau kuperhatikan dengan lebih teliti,hidung wanita ini juga indah.Agak mancung meskipun tidak mancung-mancung amat.

“Mungkin karena Mbak jomblo dan tidak ada pasangan! Hahaha” ucapan itu langsung meluncur dari bibirku tanpa bisa kukontrol.Wanita itu nyengir kemudian menatapku lekat.

“Ternyata Mas bisa becanda juga ya,padahal wajah Mas terlihat kaku sekali,hihihi” dia tertawa kecil.”Tapi...Seandainya saya punya pacar,saya tidak akan mengambil foto di sana.Mungkin bisa di bilang,saya percaya dengan hal itu”

Kutatap wajahnya lekat.Dia manis! Tetapi aku tertawa dalam hati mendengar kata-katanya.Kalau aku amati, raut wajahnya memang terlihat serius.Pakaianya seperti orang berpendidikan,tetapi kenapa dia percaya kepada hal seperti itu? Jaman modern seperti ini,dimana kemajuan teknologi sangat pesat apakah masih wajar kalau kita percaya pada mitos.’Putus cinta karena berfoto di tempat keramat!’,Apa hubunganya? Cinta adalah tentang kekuatan hati.Tempat ya hanya tempat! Aku dan Reine sudah berkomitmen dari dulu untuk selalu bersama apapun yang terjadi.Ikatan hati kami begitu kuat.Aku begitu percaya kepadanya dan aku yakin dia layak dipercaya.Mungkinkah hal kecil seperti sebuah ‘foto’ bisa merusak semuanya? Yaahh.. kecuali foto dengan selingkuhan!

“Waahh...enak dong kalau benar seperti itu?” ucapan yang kembali meluncur dari mulutku setelah berpikir cukup lama.

“Enak? Kok enak Mas?”ucapnya bingung .

“Misalnya begini Mbak...”ucapku tegas agar terlihat serius.”Seandainya saya punya pacar dan saya merasa bosan.Saya ajak saja pergi ke sini,berfoto di tempat yang Mbak bilang! Daaan.... kemudian saya akan putus. Gampang sekali dong! Hahahaha...” suara tawaku yang cukup keras membuat raut wajah wanita itu agak aneh.

“Waduh, jalan pikiran Mas aneh deh,kalau mau putus kenapa repot-repot bawa ke sini? Tinggal bilang saja kan? Dan semua selesai” dari nada ucapanya, sepertinya dia tidak mau kalah berdebat.

“Misalnya saya takut bilang kalau saya sudah tidak cinta dengan dia ?”

“Mas harus bisa tegas lah! Kan lelaki...”

“Seandainya kami sudah bertunangan karena orang tua?” ucapanku membuatnya mengernyitkan alis menatapku.

“Sepertinya arah pembicaraan kita melenceng jauh deh,padahal baru kenal ,hihihi...” ucapnya dengan tawa kecil.“Saya hanya memberi tahu kok, karena saya mendengar hal itu dari orang-orang di sini dan saya juga mempercayainya” lanjutnya.Sepertinya dia merasa kalah berdebat denganku.

“Dan saya juga berhak tidak percaya kan ?”

“Tentu saja...”

Kemudian kami kembali terdiam cukup lama.Aku merasa tidak nyaman dan berpamitan kepadanya.Sebelum berpisah dia sempat menyebutkan namanya, Wiena.Nama yang bagus.

Obrolanku kemarin sepertinya tidak berarti apa-apa.Aku kira, banyak orang sependapat denganku tentang kutukan Sang Putri,ternyata aku salah setelah melihat apa yang terjadi di taman itu.Mereka semua fans Mbak Wiena! Wooow dia hebaaat !, kataku sambil tertawa geli dalam hati.Semua orang yang berada di sini sepertinya percaya kepada hal itu.Tentu saja,kecuali aku.Apakah mereka pura-pura percaya untuk menghormati kearifan lokal ? Atau mereka memang benar-benar percaya? Entahlah! Aku tidak ada niat menanyakan kepada mereka.Perdebatan kecilku dengan Wiena sudah cukup kemarin.Aku tidak mau di keroyok orang-orang dengan pemikiran tidak logis di tempat ini.

“Apa benar tidak ada orang yang berani mengambil foto dengan pasangan di sana?” pikirku.Rasa penasaran yang semakin menggelitik membuatku merogoh Smartphone dari kantung celana.Aku akan berselancar di dunia lain,dunia yang penuh informasi.Kucari hal yang berhubungan dengan patung itu.Aku beberapa kali mengerutkan alis membaca teori orang-orang tentang Patung Sang Putri.Aku tersenyum.Di dunia maya setidaknya aku punya pendukung.Yeaah! Ada yang setuju dengan pendapatku meskipun kebanyakan dari mereka belum pernah ke sini.Yang penting aku tidak sendirian! Aku kemudian mencari foto Patung itu.Sama sekali tidak ada foto orang berpasangan di dekat patung itu.Wow! Menakjubkan.Itu artinya,hampir setiap orang yang pernah kesini percaya akan mitos itu.

Untuk mencari kebenaran,kenapa bukan aku saja yang buktikan sendiri?” bantinku.Aku menantang diri sendiri.

“Yaaapzz,aku akan mengambil foto dan membuat video di sini dengan Reine.Nanti ketika kami menikah ,aku akan membuktikan kepada orang yang percaya tahayul itu kalau apa yang mereka percaya selama ini salah!” gumamku gembira.Ide itu begitu saja muncul di kepala.Aku merasakan energi yang membuncah membanjiri tubuhku.Aku sudah tidak sabar untuk melakukanya.Tapi apakah Reine akan setuju dengan ideku? Bagaimana kalau dia juga percaya mitos itu? Aku tidak mungkin memaksakan kehendaku kepadanya.Ah sudahlah,aku pasti bisa membujuknya! batinku penuh keyakinan.

Aku tersenyum tipis sambil menatap mata patung Putri Reinkarna dengan tajam seolah aku menantangnya.Tiba-tiba Angin berhembus keras dari belakang dan menghantam tubuhku.Daun-daun kecil terbang berputar tepat di depan patung Sang Putri.Tiba-tiba kurasakan tengkukku dingin.

“Akhhh !” aku memekik tertahan dan tubuhku reflek bergerak kedepan.

“Hihihi..” kudengar suara tawa yang begitu familiar.Aku memutar tubuh.Senyum langsung mengembang di bibirku. Pacarku sudah datang! Seperti biasa,Dia selalu cantik!

“Lama nunggunya Beb ?” aku sudah tahu kata-kata itu akan meluncur dari bibir merah seksinya.Aku tidak menyahut dan menatap lekat mata beningnya.’Tatapannya seperti mata kucing’,itu yang temanku sering bilang tentang Reine.

“Enggak..Samudra belum sampe mengering kok,Sayang “ ucapku.Tentu saja aku tidak mau mengatakan kalau aku sudah menungunya dua jam lebih.

“Samudra emang belum kering! Tapi bibir Sayang udah gersang tuh,hihihi” ucapnya.Aku langsung meraba bibirku.Benar saja,bibirku kering karena belum minum dari pagi. Aku suka kepada Reine karena dia begitu perhatian kepadaku.Bahkan mengenai hal-hal kecil.Buktinya,dia tahu aku kehausan.

“Kering karena menunggu siraman kasih sayangmu,Beib” ucapanku membuat dia tersenyum.Senyum yang mengalahkan hangat mentari pagi. Oh ya! Kami tidak punya nama panggilan yang kosisten.Kadang memangil ‘Beb’,’Beib’ ,kadang ‘Sayang’ atau kadang nama masing-masing,tergantung kondisi saja.

“Mo ngapain kita sekarang,Sayang?” ucapnya sambil mengamit lenganku mesra.

“Terserah ,yang penting berduaan aja!“

“Terserah ?” ucapnya dengan raut wajah aneh.”Ihh...Harusnya aku yang bilang ‘terserah’ bukan kamu Beb.Jadi cowok kok kurang inisiatif ”lanjutnya sambil memonyongkan bibir.Aku tahu dia hanya pura-pura marah.Buktinya,pelukannya semakin erat di tubuhku.

“Lihat pemandangan ,lihat danau ,makan dan bersantai.Mungkin ambil beberapa foto untuk prewed kita juga “ucapku.Dia memberikanku lirikan manja,kemudian mengangguk setuju.Aku gengam tanganya berjalan ke tempat sepi.Aku tidak suka keramaian karena tidak nyaman dengan lirikan mata orang-orang ke arahku.Apalagi ada dari mereka yang menatapku sambil senyum-senyum.Mungkin dia tersenyum kepada Reine dan berniat menggodanya.Aku tahu Reine ramah dan murah senyum,sehingga aku harus menjauhkannya dari orang-orang yang suka menggoda.

Aku menghabiskan begitu banyak waktu bersama Reine hari ini.Ketika bersama Reine,semua terasa begitu indah.Sehingga aku tidak menyadari hari sudah sore.Aku mulai berpikir mengenai mengambil foto di dekat patung itu.

“Yang,ambil foto di sana Yuk ?” ucapku sambil menunjuk patung Putri Reinkarna,suaraku agak bergetar.Aku harap-harap cemas kalau Reine akan menolak.

“Yuuk”ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.

Apakah dia tidak tahu mitos itu? Atau dia tahu tetapi tidak percaya? Aku girang.Aku tidak menduga sama sekali akan semudah ini mengajak Reine.Pose pertamaku adalah memonyongkan bibir sambil mencium pipi Reine.Pose keduaku tidak jauh berbeda,hanya saja keningnya yang aku cium.Tentu saja semuanya di hiasi oleh senyum kami.Untung kamera depanku kameranya beresolusi besar.Jadi enak di pakai selfi.

Miew miew miew

Itu suara kameraku.Sudah berkali-kali jepretan kuambil.Orang orang mulai memandangi kami.Raut wajah mereka terlihat aneh. Mungkin mereka hendak melarang kami mengambil foto berdua,tapi tidak berani. Ahhh! Peduli amat! Siapa suruh percaya kepada tahayul! Aku mengandeng tangan Reine dengan penuh percaya diri dan tidak menyapa mereka sama sekali.

Hari perlahan semakin gelap.Matahari sudah terbenam.Kabut-kabut mulai menyelinap dan gelap sepertinya akan segera datang.Aku mengajak Reine ke penginapan.Aku merasa ada mata yang memandang dan mengawasiku,sedikit terasa tidak nyaman.Ahh sudahlah!Aku begitu bahagia hari ini.Aku tidak peduli apapun lagi.
 

*****​


“Dulu saya bekerja di hotel yang di sana Mas.. “ ucap Receptionist yang berjaga sambil menunjuk hotel yang berada tidak jauh dari tempatku menginap.Malam itu,aku baru saja menyelesaikan urusan Check-in Reine.

“Kenapa berhenti ? Gajinya kecil ya?”

“Enggak Mas,bukan masalah gaji! Dua tahun lalu ada kejadian aneh dan menghebohkan di sini .Seorang wanita mencoba bunuh diri. Mereka adalah tamu hotel itu !“

“Kenapa ?” ucapku.

“Saya tidak tahu pasti .Waktu itu saya baru training selama dua bulan...“ ucapnya.Dia diam sejenak dan menatapku dengan serius.”Dengar-dengar ,mereka kena kutukan karena mengambil foto dengan Putri Reinkarna”

“Hahaha,karena Sang Putri?“ ucapku sambil tertawa.Mengapa semua orang di sini percaya mitos seperti itu?

“Iya...” sahutnya.

“Masnya percaya ?”

“Enggak Mas..”

“Kenapa tidak percaya ?”

“Itu tidak logis “ ucapnya sambil tersenyum.

“Saya juga tidak percaya “ ucapku mantap.”Berarti kita sepemikiran! “ Aku mengangkat tangan dan mengajaknya tos.Dia menyambut tangaku.Aku punya teman sekarang!

Namamu siapa,saya Rendra”

“Saya Tony” ucapnya.

Kudengar Suara Reine memanggilku,aku menoleh. Malam ini dia terlihat begitu cantik dengan balutan celana panjang jeans dan sweeter berwarna abu-abu. Dia langsung berlari ke arahku.Aku melebarkan tangan untuk menyambutnya dengan pelukan.

“Kami mau makan malam dulu “ ujarku kepada Tony untuk berpamitan.Aku merasakan ada sebuah kejanggalan.Aku seperti diawasi.Aku menoleh.Aku melihat Si Tony menatap kami, kemudian dengan cepat dia membuang muka ketika beradu pandang denganku.Aku merasakan sesuatu yang aneh dari pancaran mata yang aku tangkap tadi.Aneh dan benar-benar aneh!Aku melirik Reine yang tetap ceria di sampingku seolah tidak merasakan apa-apa.Aku melirik bokongnya yang menonjol dan bergerak indah ketika dia melenggok.Menggemaskan sekali! Aku kembali melirik Tony,dan dia kembali membuang muka.Anak kurang ajar itu pasti tertarik melihat bokong Reine! Hahaha! Aku tertawa dalam hati.Betapa beruntungnya aku bisa memiliki pacar secantik Reine.

Aku belum pernah bercinta dengan Reine.Aku begitu menghormatinya.Kami menyadari kalau kami belum menjadi pasangan yang resmi,dan sebuah pernikahan adalah ikatan yang suci. Hal itulah yang membuat aku dan Reine memutuskan untuk tidak tinggal dalam satu kamar.Kamar kami bersebelahan.Aku sengaja memesan kamar sedekat itu untuk memudahkan kalau perlu sesuatu.Penginapan yang aku tempati saat ini hanya memiliki 8 kamar dan berlantai dua.Empat kamar di atas dan empat di bawah.Setiap kamar di pisahkan lorong selebar 2 meter.Tempat Receptionist,Lobi dan Restourant ada di bawah.Untuk mencapainya harus turun melalui tangga.Tidak ada lift.Maklum,ini kan desa dan sudah itu cukup bagus.Karyawannya juga tidak begitu banyak.

Setelah makan malam.Aku mengantarkan Reine ke kamarnya.Dia terlihat begitu kelelahan sehingga aku sengaja memberikan waktu untuknya supaya bisa beristirahat.Sebernarnya aku masih ingin berduaan,tetapi aku menahan perasaanku.

“Selamat bobo Sayang,mimpi indah “ ucapku sambil mengecup keningnya.Dia menganguk dan memberikan senyum termanis yang pasti akan aku ingat nanti sebelum aku tidur dan mungkin juga sampai besok setelah aku bangun tidur.Aku melambaikan tangan ketika dia sudah rebah di tempat tidur.Kemudian aku menutup pintunya pelan.Aku bersiul-siul gembira ketika memasukan kunci kelubang pintu kamarku.

“Pacarmu sudah datang?” sapa Mbak Wiena.Lagi-lagi wanita ini mengangetkanku dan tanpa aku sadari berada di dekatku.Entah kapan dia datang.

“Udah,dia di kamarnya” kataku sambil menunjuk kamar Reine,aku berusaha tenang dan tidak ingin dia tahu kalau aku kaget lagi.Itu memalukan.

“Kalian tidak tidur sekamar?”

“Tidak” ucapku sambil menggeleng mempertegas pernyataanku.

“Wah,kamu lelaki baik ya ?”

“Hahaha ”aku tertawa.”Itu hanya masalah prinsip,Mbak .Kami berkomitmen saling menghormati dan saling menjaga”

“Dan prinsipmu bagus, Saya suka” ucapnya.”Bagaimana jalan-jalanmu ?”

“Sudah pasti menyenangkan karena ada pacar,haha” ucapku bangga.”Dan kami sudah mengambil photo di dekat patung Sang Putri.Berdua!”

“Serius? Kamu tidak takut kutukan itu benar ?” ucapnya sambil memecukan alis.Raut wajahnya seketika berubah.

“Saya tidak percaya Sang Putri yang begitu cantik akan memberi kutukan” ucapku yakin.

“Berhati-hati aja” ucapnya dingin.

“Hahahaa, apakah ada bukti kutukan itu benar?”

“Ada desas-desus yang mengatakan,kalau 2 tahun lalu ada yang patah hati dan hampir bunuh diri di sini”

“Apakah ada beritanya di Tv dan internet?”

“Eh.. hmm, enggak tahu! Mungkin ada...”ucapnya cepat tanpa menatapku.Aku tahu dia berbohong.Aku kemudian mengecek hp dan mencari di internet.Sama sekali tidak ada berita seperti itu dua tahun lalu.Aku heran dengan orang-orang yang percaya mistis.Ketika mereka menyebarkan gosip, pasti di awali dengan kata ‘katanya’.

“Lihatlah...” kataku.”Foto ini akan tetap abadi seabadi cinta kami”ucapku sambil menunjukan foto-foto yang tadi aku ambil di dekat Sang Putri.Aku tersenyum senang ketika kulihat pancaran aneh di mata Mbak Wiena.Dia sepertinya sulit mempercayai keberanian dan kenekatanku.

“Mbak tidak percaya aku seberani itu kan? Hahaha” aku yakin pacaran mataku berbinar-binar saat mengucapkan itu.Aku bangga.“Foto ini akan aku kirim beserta undangan pernikahanku untuk Mbak nanti” ucapku lagi.”Dan Mbak tidak akan percaya lagi akan kutukan patung itu,tidak akan pernah!”. Ucapanku hanya di balas senyum tipisnya.

“Saya duluan istirahat ya Ren”

“Kamar Mbak dimana?”

“Kamu sudah punya pacar masih aja nanyain kamar wanita lain, mau ngapain ?” ujarnya sambil tersenyum penuh arti.Aku melihat senyumnya yang mengoda.Bibir indah dengan polesan lipstik senada.Aku jadi teringat Reine.Pacarku tanpa lipstik,tetapi sangat cantik! Aku tidak menjawabnya.Hanya melambaikan tangan dan dia pun berlalu.Untuk apa juga aku harus tahu kamarnya? Aku mengeleng-gelengkan kepala.Aku menyesal bertanya.
 

*****​


Aku merasa begitu lelah tetapi anehnya aku tidak bisa tidur.Beberapa kali kupejamkan mata dan mengganti posisi senyaman mungkin tetapi tetap saja kesadaran melekat dalam kepalaku.Kemarin malam,udara terasa sangat dingin,tetapi sekarang terasa begitu panas.Aku ingat kemarin aku malas berjalan ke kamar mandi saking dinginnya padahal kamar mandi begitu dekat. Akhirnya, aku mengulangi kebiasaan buruku.Kencing dalam botol air mineral dan meletakanya di bawah tempat tidur.

Malam ini aku kegerahan.Benar-benar kegerahan! Aku sampai mebuka bajuku.Apakah udara memang panas atau tubuhku yang panas?Kamar penginapanku tidak ada AC karena memang tidak mebutuhkanya.Tentu saja karena ini adalah di dataran tinggi dan udaranya sangat dingin.Yang di butuhkan hanyalah selimut.

Aku kembali memejamkan mata.Kali ini terdengar suara nyamuk yang menguing-nguing mengusik telingaku.Nyamuk Siaaaalann !! Aku memaki dalam hati.Dari kemarin mereka menganguku.Hal itu sebenarnya wajar karena aku berada di daerah yang banyak pohon.Aku beranjak ke arah meja di pojok ruangan dan mebuka sebuah plastik.Isinya adalah dua botol obat nyamuk semprot dan beberapa bungkus lotion anti nyamuk.Aku kemarin meminta tolong penjaga penginapan untuk membelikannya.Aku mengoleskan lotion dan mencoba untuk tidur lagi.Tetap saja tidak bisa dan tubuhku terasa semakin panas.Aku mencoba membayangkan kenangan indahku tadi dengan Reine, tetapi yang muncul malah bayangan Putri Reinkarna dengan tatapan matanya yang tajam.Ini aneh.Aku memikirkan patung itu.Aku dihantui!

Sebuah keinginan kuat mendorongku menggerakan tubuh bangkit dari ranjang. Aku bergegas ke kamar Reine dan merayunya untuk mengantarku ke Taman Indah.

“Rein,temenin aku ke sana ya?” ucapku.Kulihat Reine menguap dan bangkit dengan malas kemudian duduk di ranjang sambil mengucek matanya.Sepertinya dia sempat tidur.Dia menatapku tidak senang,aku hapal tatapan matanya itu,tetapi pada akhirnya dia menyerah dan mau menemaniku.

Suasana malam dan siang hari begitu berbeda di tempat ini.Tidak ada lagi pemandangan hijau di sekelilingku,berganti dengan gelap yang di hiasi kelap-kelip cahaya.Langit yang biru berubah menjadi hitam dan bertabur Bintang.Sangat indah! Angin berhembus mengoyangkan daun-daun mengeluarkan suara berisik tetapi merdu di telingaku.Sinar rembulan cukup mampu menerangi langkahku di jalan berundak.

Sesuatu yang masih terlihat sama di mataku adalah patung Putri Reinkerna.Tetap terlihat cantik dan mengagumkan,bahkan semakin indah.Cahaya Bulan yang menimpa sebagian tubuhnya membuat dia terlihat seolah hidup.Ada kilatan cahaya di mata indahnya yang terbuat dari batu akik.Hampir saja aku melupakan Reine yang berada di sampingku karena Patung Sang Putri.Aku kemudian memeluk tubuh Reine dengan erat.Tubuhnya hangat.

“Iiiihh.. bilang aja ingin berduaan,pake alasan mau lihat patung segala “ ucapnya sambil mencubit pinggangku.Aku tertawa geli.

“Aku gak bisa bobo Yang”

“Mikirin aku ? Hayooo ngaku “ ucapnya sambil menatap mataku.Duuuuhhh...tatapan Reine di keremangan malam sunguuuh mempesona,cahaya bintang di langit semuanya kalah !

“Enggak.Aku mikirin patung ini,gak tau kenapa bisa inget terus? ” jawabku.Reine sepertinya tahu kalau aku serius dengan ucapanku.

“Jadi? bangunin aku malam-malam cuma karena pengen liat itu aja?” ucap Reine dengan nada tidak senang sambil menunjuk patung Putri Reinkarna.

“Ingin berduaan dengan sayang juga dong,hehehe” jawabku sambil memeluk tubuhnya erat.Reine malah berontak melepas pelukan.

“Aku mau kesana ya,lihat laut!” ucap Reine cepat.Dia berlari kecil.Tubuhku ikut berputar karena bola mataku mengikuti langkahnya.Dia berdiri di atas kursi taman cukup jauh dariku.Memandang kelap-kelip lampu rumah penduduk dan juga kelap-kelip di laut.Aku hanya tersenyum lega.Aku tahu dia tidak benar-benar marah.Aku hapal tingkahnya.Aku kembali membalikan tubuh untuk melihat patung Sang Putri.

“Ya Tuhan..!!”teriakku kaget. Aku mundur beberapa langkah ketika melihat kilatan cahaya dari kedua mata binatang pengawal sang Putri.Dug Dug Dug, Jantungku terasa memukul dada dengan keras.Apa itu tadi ? Aku berusaha bersikap setenang mungkin.Kutoleh Reine,dia masih asik dengan memandangi laut.Aku tidak ingin menggangunya.

Aku mengendap-endap ke arah patung itu.Semakin dekat,detak jantungku semakin keras.Aku menahan nafas sambil memfokuskan pikiran.Kutatap dengan lekat kedua mata Sang Anjing tanpa berkedip.Tidak ada kilatan cahaya.Cukup lama pandanganku tidak lepas darinya. Semua tetap sama,tidak ada cahaya aneh atau apapun.Apa tadi hanya perasaanku saja ?Tanganku terjulur hendak menyentuh kaki Sang Putri.

“Ouucchhh” aku berteriak tertahan.Tangaku terasa kesemutan.Bagian yang kusentuh seperti mengalirkan listrik ke arah tanganku.Aku meniup ujung jariku yang terasa kebas.Apa ada aliran listrik disini? pikirku sambil mengamati patung itu.Tidak ada kabel sama sekali di sana.Lampu taman hanya ada di setiap pojok dan cukup jauh.Aku menjadi penasaran.Apakah tadi hanya perasaanku juga? Tanganku kembali terjulur.

Guk Guk Guk

Suara gongongan anjing menhentikan gerak tangaku.Aku menoleh,melirik sekitar.Tidak ada anjing sama sekali.Perasaanku mulai tidak enak.Aku lirik Reine kembali.Dia masih duduk di kursi taman.Haruskah aku bertanya kepadanya tentang gongongan anjing itu ? Apakah dia mendengarnya ? Aku menarik nafas dalam dan memutuskan untuk tidak menggangu Reine.

Guk Guk Guk

Aku mendengarnya lagi.Arahnya dari patung Sang Putri.Aku sangat yakin.Jangan-jangan..? Kutatap kedua patung anjing secara bergantian.Mereka tetap saja diam seperti semula.Mulutnya juga tidak bergerak.Ini sangat aneh ?

Ohh..Apa ini ? Tanganku dengan cepat meraba kepala ketika sesuatu yang dingin terasa menyentuh rambutku. Air? Air darimana ini?Aku mendongak.Ternyata aku berdiri tepat di bawah tangan patung Sang Putri yang terjulur.Mungkin air dari sana! pikirku.

Tjesss .... Pluuk

Sebuah benda kecil bercahaya terlihat meluncur di kegelapan tepat mengarah ke kepalaku.Aku langsung memejamkan mata.Benda itu mengenai keningku.Dingin! Tubuhku bergetar seperti teraliri arus listrik.Aku terdiam sejenak kemudian mengusap kening.Air lagi! Fyuuuuhhh...! Aku mulai berfikir dan berfikir.Otakku bekerja keras. Dingin dan listrik? Aku menghembuskan nafas lega sekaligus menyeringai senang.Pasti sengatan listrik di patung Sang Putri karena hawa dingin yang berlebih! Aku bersorak gembira di dalam hati ketika menyadari ilmu yang kupelajari cukup berguna.Aku lega. Aku lebih rileks sekarang.Semua beban hilang dari pikiranku. Dengan kepercayaan diri tinggi aku menjulukan tangan untuk memegang kaki Patung Sang Putri.

“Adduuuhh!” aku berteriak lagi.Kali ini bukan ujung jemariku yang dingin tetapi lenganku.Seseorang memegangnya.Cengkramanya begitu kuat.Tanganku hendak menyingkirkanya.Reine,Ini pasti dia!

“Ehhhhhh”

Aku merasakan lengan itu berambut lebat. Ini bukan Reine!Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya terang langsung mengenai mataku.Aku meringis sambil menutup mata.Aku mendengar suara mengeram.Kubuka mata dengan tiba-tiba.Ohhh siial ! Aku langsung mundur beberapa langkah melihat dua bola mata menatap tajam ke arahku.

“Jangan ngelamun malam-malam di sini,bisa kesambet makhluk halus”

Aku mendengar suara manusia.Aku memaki dalam hati sekaligus lega. Aku mengejapkan mata dan berusaha mengontrol diri.

“Saya kagum melihat patung ini Pak “ sahutku menyembunyikan rasa kaget dan tidak senang.

“Saya tahu,kamu begitu asik denganya sehingga tidak menyadari kedatangan saya”

“Hehehe,iya Pak .Patungnya begitu cantik ”

“Cantik tetapi mengerikan!”

“Maksud bapak?”

“Kamu tidak tahu mitos tentang Sang Putri ?” ucapnya. “Mau mendengarkan cerita saya ?”

“Iya”

“Begini....” dia mulai bercerita.

“Dahulu kala di tempat ini ada sebuah kerajaan.Raja yang sudah tua hanya memiliki pewaris tahta dua orang Putri kembar.Namanya Putri Reinkarna dan Putri Reineka.Mereka berdua sangat cantik dan wajahnyapun sama.Untuk meneruskan kerajaan,Raja memutuskan mengadakan sayembara mencari pangeran untuk mempersunting salah satu Putri tersebut dan dijadikan pewaris tahta.Kemudian seorang Pangeran dari seberang pulau memenangkan sayembara.Pangeran itu bernama Pangeran Arya,dia tidak begitu peduli dengan istri sehingga dia asal tunjuk ketika di suruh memilih antara Reinkerna dan Reineka.Hal terpenting bagi pangeran Arya adalah sebagai raja dan memiliki kekuasaan.Ternyata dia memilih Putri Reinkarna.Putri Reineka tidak memprotes sama sekali karena sesuai kesepakatan,siapapun yang tidak terpilih harus rela dan ikhlas menerima untuk di asingkan menjadi rakyat biasa” dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan cerita.

“Bertahun-tahun mereka menikah tetapi tidak di karunia seorang anak pun sebagai pewaris tahta.Akhirnya atas saran penasehat kerajaan,Sang Putri di suruh mandi di Danau itu agar mempunyai keturunan” ucap bapak itu sambil menunjuk danau yang permukaannya terlihat berkilau karena pantulan cahaya bulan.Aku terdiam dan mendengarkan saja.

“Pihak kerajaan menyetujuinya.Putri Reinkerna melakukan ritual tersebut selama tujuh hari berturut-turut.Di hari ketujuh,hal tidak terduga terjadi !“ bapak itu menyalakan rokok sebentar sebelum melanjutkan.”Ketika keluar dari Danau.Seorang anak lelaki kecil yang sangat tampan memegang kaki Sang Putri dan tidak mau melepaskanya.Ternyata Anak lelaki itu bisu.Dia memberi kode meminta Putri Reinkarna untuk mengikutinya ke suatu tempat.Putri Reinkerna yang baik hati menurut.Anak itu membawanya ke sebuah goa.Dengan bangga anak itu menunjukan coretan-coretan yang iya buat di dinding.Sangat mengejutkan,anak sekecil itu pintar menggambar.Dan yang lebih mengejutkan, Orang yang ada di gambar tersebut adalah gambar Putri dengan sang Raja.Mereka terlihat sangat mesra dan romantis.Awalnya Putri Reinkarna merasa tersanjung dan sangat senang,tetapi dia mulai menyadari ada yang aneh.Dari mana anak itu dapat inspirasi menggambar? Putri Reinkarna merasa tidak pernah bersikap seperti itu kepada Sang Raja.Hingga akhirnya anak itu menyebut kata ‘Mama’ kepada Putri Reinkarna.Dia juga menyebut wanita yang ada dalam gambar dengan sebutan Mama.Kata Mama adalah satu-satunya kata yang bisa di ucapkan anak itu.Insting kuat Putri Reinkarna merasakan seuatu yang tidak wajar.Dia memerintahkan pengawal untuk menyelidiki anak siapakah itu.Dan sesuai dugaanya.Anak tersebut adalah adan dari Putri Reineke dan Raja Arya.Mereka berselingkuh dan menjalin hubungan terlarang.Karena Murka,Putri Reinkarna mengutuk Raja Arya dan Putri Reineka menjadi anjing penjaganya.Kedua anjing yang ada di patung itu” ucap bapak itu melanjutkan.

“Kamu pernah mendengar mitos kalau di sini tidak boleh mengambil foto di dekat patung Sang Putri kan? “

“Iya saya tahu,tetapi saya tidak percaya.Mana mungkin putri secantik itu mengutuk orang ” ucapku.

“Kebanyakan orang yang tidak tahu,menganggap kalau Putri Reinkarna yang memberi kutukan.Padahal tidak! Yang memberi kutukan adalah kedua anjing penjaga itu! Mereka masih merasa malu karena ada yang mengambil gambar mereka berdua.Hal yang sangat memalukan bagi mereka dan membuat mereka sengsara seperti itu.Sama dengan yang anak mereka lakukan dulu”

“Tapi kenapa Putri Reinkarna begitu gampang mengutuk orang?Apakah dia punya kekuatan ajaib? “

“Orang jaman dahulu,terutama orang suci dan kerajaan di beri kekuatan istimewa oleh para Dewa.Seandainya Putri Reineka dan Raja Arya tidak benar-benar berselingkuh,kutukan Putri Reinkarna tidak akan terjadi.Kutukan hanya untuk orang yang bersalah.Kalau orang suci dan bersih,kutukakan apapun tidak berlaku!” ucapnya serius.

Aku membantah dalam hati meskipun merasa sedikit terpengaruh oleh cerita bapak itu.Tentu saja banyak hal yang jangal dalam cerita tersebut dan terkesan di buat-buat.Untuk sebuah alasan pembenaran mitos.Aku melirik Patung Sang Putri.Dia seolah tersenyum ke arahku.Sangat berbeda dengan tatapan kedua anjing penjaga.Mereka menatapku penuh dendam.Aku dapat merasakanya.

“Seandainya kamu punya pacar,jangan pernah mengambil foto di dekat patung ini dengan pacarmu ! Mereka kalau memberi kutukan tidak main-main! Kedua anjing itu bisa menjelma menjadi siapapun yang mereka inginkan dan menggangu kehidupan orang.Patung itu mempunyai roh dan mereka bisa masuk ke tubuh seseorang sehingga orang tersebut tidak sadarkan diri dan melakukan hal yang tidak sesuai kehendakanya”

Ucapan bapak itu membuatku tidak nyaman.Tetapi itu tidak seberapa,ada hal lain yang membuatku sangat risih.Sorot mata tajam seperti hewan buas yang siap menerkamku.Itu sorot mata Reine! Dia sepertinya ikut mendengarkan pembicaraan kami tanpa kusadari. Gadis itu mengigit-gigit bibirnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Aku tahu tanda apa itu.Dia ngambek! Ya Tuhan! Sekarang aku mempunyai tugas yang berat.Aku harus menenangkannya sebelum hal yang buruk-benar buruk terjadi.

Dia melangkah meninggalkanku.Aku terburu-buru mengucapapkan kata ‘Terima kasih ’ kepada bapak tersebut.Pandangan mata heran bapak tersebut tidak aku pedulikan.Langkah Reine cepat,aku susah mengimbangi.Aku tidak percaya kalau Reine bisa gampang sekali terpengaruh mitos seperti itu. Sampai ketika kami memasuki lobi hotel,Reine tetap tidak mengucapkan sepatah katapun.Pikiranku menjadi kacau.Aku kembali berpapasan dengan Wiena.Wanita itu tersenyum misterius.Aku tidak peduli.Target utamaku adalah menenangkan Reine.Keringat dingin membasahi dahiku.Reine jarang ngambek,tapi kalau sudah ngambek,duniaku runtuh! Aku pernah mengalaminya dahulu.Hidupku dalam bahaya!

“Aku ingin tidur,capek dan tidak ingin berbicara dengan kamu!” ucap Reine ketus.Dia mendorong pintu kamar dan tidak mengijinkanku masuk.Aku melawan dan memaksa masuk.Hal yang membuatku sedikit senang yaitu Reine mau berbicara meskipun dia bilang’tidak ingin berbicara’.Aku punya sedikit harapan menjinakannya saat ini.

“Maaf Sayang ,seharusnya tadi siang aku bercerita padamu tentang patung itu...”

“Sudah terjadi,tidak penting lagi!! ” Reine setengah berteriak.Ucapan yang singkat tetapi seperti jarum kecil yang ditusukan ke telinga,mengalir melalui saraf kemudian menusuk hati.Menyakitkan!Aku mencoba sesabar mungkin menghadapinya.Ini semua salahku.

“Tapi kamu tidak pecaya akan kutukan itu kan ? Itu tidak logis!” nada suaraku sepertinya ikut meninggi.Itu memicu bola mata Reine mengeluarkan api yang siap membakarku sampai hangus.Aku tahu amarahnya menggelegak.Aku menahan nafas dan berusaha mengontrol emosi.

“Menurutmu ?” dia mengeluarkan satu kata sejuta makna.

“Percayalah,aku tidak akan meninggalkanmu,kamu tahukan setulus apa cintaku padamu”ujarku mencoba meyakinkan.Aku mendengar dengusan nafasnya.Dia memalingkan muka tidak mau menatapku.

“Aku tau! Apa kamu tidak dengar apa yang bapak tadi katakan ? Mereka bisa memisahkan kita dengan cara apapun,Aku takut Ren !” nada bicara Reine masih tinggi.Dia sampai mengangkat kedua tanganya.Itu pertanda dia akan mencapai puncak emosinya.

“Tapi itu hanya mitos,Sayang.Jangan percaya hal seperti itu! Kita tidak mungkin putus ! ”

“Tingkahmu yang bakal bikin kita putus! ” ucapnya ketus.”Dan kutukan itu akan terjadi kalau kamu masih seperti anak kecil” lanjutnya lagi.

“Anak kecil ?”

“Kamu tidak jujur ! Meskipun itu hanya mitos.Aku harusnya tau dari kamu lebih dulu,bukan bapak tadi !” suaranya agak parau.Hidungnya kembang kempis.Dia seperti akan menangis.

“Maaa..maafkan aku Sayang.. Maaaf “Aku langsung mendekapnya kuat.Dia tidak bergerak sama sekali.Kudekatkan bibirku di telinganya.

“Aku sangat menyayangimu,sampai kapanpun! Aku selalu menjagamu,percayalah “ aku membisikinya dengan lembut sambil membelai rambutnya.Aku merasakan bahunya berguncang dan tangannya menyentuh punggungku.

“Akuuu..aku takut, Sayang.Aku tidak mau kehilanganmu..hikz hiks” dia mulai menangis sesegukan.

“Aku akan selalu ada di sampingmu sayang “ ucapku dengan yakin. Aku mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Tetapi bagaimana kalau kutukan itu benar ? bagaimana kaa......”

Ucapan Reine terputus ketika aku menggerakan kepala untuk memangut bibir merah dan basahnya.Lembut! Lembut sekali bibirnya.Aku ingin menghentikan ciuman tetapi tubuhku menolak.Apalagi Reine mengerakan tangan membelai punggungku.Aku terbawa suasana.Lidah kami bertemu,saling membelai dan mencicipi.

Cukup lama kami berciuman.Ada perasaan tidak rela ketika bibir basah itu terlepas dari bibirku.Aku menatap mata beningnya.

“Aku sayang kamu ,Rein.Sampai kapanpun”

Dia tersenyum.Tidak ada lagi pancaran amarah.Kuusap bekas air mata di pipinya.Kepalanya bergerak.Dia menciumku! Aku membalas ciumanya.Bibir kami bertaut.Ciuman kami lebih liar.

Tanpa kusadari.Kami sudah duduk di pinggiran ranjang.Tangan kami saling membelai pungung,pinggang ,leher dan wajah.

“Aaaahhhh...” Reine melenguh ketika bibirku bergerak di lehernya.Aku hanya menuruti naluri.Kugerakan bibirku mengitari leher halus tersebut.Dia bergerak mengimbangi,memberikanku posisi ternyaman untuk mencium lehernya.

Aku mendorongnya rebah di ranjang dan menidih tubuhnya.Bibir kami kembali bertautan.Aku merasakan penisku mengeras ketika merasakan kenyal dadanya yang aku tindih.Aku penasaran ingin melihatnya.

Tanganku mulai meraba dan membelai pinggangnya.Reine tidak menolak sama sekali.Dia malah mengeliat sambil mendesah.Aku semakin bersemangat.Kusibakan kancing atas kemejanya sambil mengecup lehernya.

“Ahh... geli ,Sayang!” desah Reine.

Jemari tangaku mulai kumainkan di perutnya.Kugelitik pusarnya, dia mengelinjang.Satu demi satu kancing kemejanya aku lepas dari atas.

“Ohhh” aku takjub.Detak jantungku begitu cepat.Kulihat payudara Reine yang putih menyembul dari atas branya.Sepertinya bra warna hitam itu tidak muat menampungnya.Aku langsung membenamkan wajah di antara belahan payudara Reine.Dia melenguh sambil menaikan pinggang.Kujilat bongkahan payudara itu dengan lembut.

“Ahhhh... Sayaang..” dia mendesah lagi.

“Boleh aku buka,Sayang?”

Reine mengangguk sambil mengangkat tubuh.Tanganku dengan tidak sabar mencari pengait bra.Yess! Teriaku dalam hati ketika menemukanya.Aku menariknya lepas dari tubuh Reine. Payudara Reine begitu padat dan kencang.Ukuranya cukup besar.Warna putingnya agak kemerahan.Aku sangat menganguminya,ini pertama kali aku melihatnya.Dia tersipu malu ketika aku menatap payudaranya.

Aku menyentuhnya.Terasa begitu lembut di jariku.Aku membelainya,Reine menggeliat sambil mendesahkan namaku.Aku menurunkan kepalaku dan mulai mencium payudara itu.

“Sayang.. geliii..hmmmppp”

Aku senang mendengar desahannya.Kumainkan putingnya dengan jari.Dia malah menjambak rambutku.Sepertinya dia tidak tahan dengan jilatanku.Aku semakin nakal,kusentuh putingnya dengan ujung lidah.Dia langsung mengcengkram lenganku.Punggungnya terangkat.

Desahanya semakin sering terdengar di telingaku.Aku senang.Penisku sudah tegang sekali.Aku membelai pahanya yang masih terbungkus celana jeans.Reine tidak menolak.Bahkan ketika tanganku merayap ke selangkanganya,dia malah semakin melebarkan paha.Aku mencoba mencari pengait celana jenas dan hendak melepasnya.

Sreeet..Sreeet...

Aku kaget ketika mendengar suara seperti orang menyeret langkah.Fokusku kepada tubuh Reine seketika buyar.

Sreeet..sreeet

Aku mendengarnya lagi, seketika aku mendongankan kepala.Kulirik Reine yang menatapku dengan pandangan mata-heran.

“Ada apa yang?” ucapnya.Pancaran mata Reine sayu.

“Sepertinya aku mendengar suara orang “ ucapku.Aku bergegas membuka pintu dan tidak menemukan siapapun.Aku sangat jelas mendengar suara itu.Mungkin penghuni penginapan yang lain! pikirku. Kutatap tubuh setengah telanjang Reine.Kesadaranku kembali dengan cepat.Aku tidak boleh melakukan ini! Kami belum menikah! Aku tidak boleh lepas kontrol.

Aku memutuskan kembali kekamar.Aku berusaha sebisa mungkin menahan nafsuku.Pancaran mata kecewa Reine mengiringi kepergianku.Aku berhenti sejenak sebelum menutup pintu kamar.Kukecup keningnya.

“Selamat malam Sayang,nice dream “ ucapku.

Aku menarik pegangan pintu kamar Reine dan hendak menutupnya.Tetapi seperti ada sesuatu yang menahan.Kupikir itu adalah Reine.Ketika aku melirik ke dalam,Reine sudah merebahkan diri.

Wuuuuusssss

Tiba-tiba angin dingin berhembus.Aku mendengar derap langkah kecil dan seperti ada sesuatu yang berjalan melaluiku.Kuurungkan niatku menutup pintu kamar Reine.Aku masuk dan melihat ke setiap sudut kamar Reine tapi tidak ada siapa-siapa.

“Kenapa sayang? Mau tidur di sini ?” ucapan Reine menyadarkanku kalau aku harus kembali ke kamar.Aku menutup pintu kamarnya dan kemudian kembali ke kamarku.

Aku memasuki kamar dengan perasaan berbunga-bunga,kemudian mencoba tidur.Setiap aku memejamkan mata,kulit lembut dan bibir hangat Reine kembali terasa di tubuhku.Aku tersenyum membayangkanya.Kemudian kulirik jam di dinding.Sudah jam 12,Aku harus tidur! Aku mencoba memejamkan mata dan mengatur nafasku dengan tenang.

Sreek.. Sreet...

Aku langsung membuka mata ketika mendengar suara asing di depan pintu kamarku.Aku mencoba mendengarkan lebih jelas tetapi suara itu hilang.Aku memejamkan mata kembali.

Draap draapp Sreeeek sreeekkk

Aku meloncat dari tempat tidur.Suara itu cukup menggangu telingaku.Aku melirik jam dinding,jam 2 pagi.Ternyata aku sudah sempat tertidur.Aku melangkah malas ke arah pintu dan membukanya.Tidak ada siapa-siapa di luar.Mungkin orang hotel tadi kesini ? Kututup pintu dan kurebahkan lagi tubuhku sambil menutup mata.

Draaap sreek sreeek

Bangsat! Suara langkah itu kembali terdengar dan aku langsung berlari membuka pintu.Aku tidak menemukan siapapun.Aku jelas-jelas mendengar suara itu.Telingaku tidak mungkin salah.Aku kemudian menyusuri lorong di penginapan.Hasilnya sama.Aku tidak menemukan siapapun.

“Bukan Putri Reinkarna yang memberi kutukan,tetapi kedua anjing itu”ucapan bapak tua tadi tiba-tiba terngiang di telingaku.Apakah tadi derap langkah anjing ? Perasaanku menjadi kurang enak.

“Kalau itu benar... jangan-jangan.... ?” batinku gelisah.”Ah tidak mungkin.. itu hanya mitos !”

“Mereka bisa melakukan apa saja untuk memisahkan seseorang.Bahkan dengan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh manusia.Kedua anjing itu bisa menjelma menjadi siapapun yang mereka inginkan dan menggangu kehidupan orang.Roh mereka juga bisa masuk ke tubuh seseorang sehingga orang tersebut tidak sadarkan diri dan melakukan hal yang tidak sesuai kehendakanya” ucapan bapak tadi kembali memenuhi kepalaku.

“Kalau kamu merasa bersalah,Minta maaflah ke sini sebelum terlambat dan terjadi hal-hal buruk ! “

Aku langsung mengambil jaket dan berlari keluar.Kali ini aku tidak akan mengajak Reine.Aku tidak ingin membuat masalah lagi.

“Reen... Reeeeenn..“

Aku mendengar suara seseorang memanggilku.Apakah Reine ? Sepertinya suara itu dari kamarnya.Aku hendak mengetuk pintu tetapi aku mengurungkan niat.Lagipula sudah tidak terdengar suara apapun lagi.Kemudian aku melangkah menjauh.

“Reeeennnn...ahhhh....“

Aku kembali merasa dipanggil.Bukan! Itu bukan seperti suara panggilan. Itu seperti suara Reine mendesah saat aku menciumi payudaranya.Aku melangkah pelan ke pintu kamar Reine dan menempelkan telingga.Selama semenit aku melakukanya tetapi tidak mendengar suara apapun.Aneh! Mungkin dia mengigau.

Aku hampir melupakan tujuanku gara-gara suara sialan itu.Aku harus cepat-cepat ke taman.Aku berjalan begitu cepat dan tubuhku terasa ringan.Semangat dan tekad membuat aku tidak merasa kelelahan. Keindahan malam tidak aku hiraukan lagi. Tujuanku jelas dan hanya satu,Patung Putri Reinkerna.

Hening sekali saat ini.Berbeda dengan waktu aku ke sini bersama Reine.Suara binatang malam pun tidak ada.Aku langsung bergegas ke arah patung Sang Putri.

Guk Guk

Suara anjing membuatku mendongak.Aku terkesiap melihat pemandangan aneh di depanku.Salah satu patung anjing sudah tidak ada di tempatnya yaitu anjing jantan penjelmaan Raja Arya. Kemana patung itu ? Kupandangi wajah sang Putri seolah aku bertanya kepadanya.Dia seperti memberikan jawaban kepadaku,tetapi aku tidak bisa memahami.

Aku berjalan mondar-mandir.Aku tidak percaya kalau patung bisa hidup dan pergi sendiri.Jangan-jangan ada yang mengambilnya? Itu tidak mungkin! Aku membantah pikiranku sendiri.Kemudian kuputuskan untuk menunggu di kursi tempat Reine tadi duduk.Keindahan laut ,keindahan langit,keindahan bulan,dan bahkan kecantikan Sang Putri saat ini tidak bisa kunikmati.Aku gelisah,panik ,sekaligus penasaran.Beberapa kali kulihat patung itu dan berharap aku salah lihat,tetapi tetap sama.Patung anjing itu hanya satu.

Cukup lama aku menunggu.Tetapi anjing itu tidak kembali.Aku memutuskan kembali ke penginapan dan berharap besok pagi ada keajaiban.Aku benar-benar bingung saat ini.Malam terasa sangat panjang.

“Reineee !!” aku setengah memekik, kemudian berlari kencang ketika ingat akan dirinya.Firasatku sangat buruk.Aku tidak tahu secepat apa aku berlari,yang pasti aku sudah sampai lobi hotel dalam beberapa detik.Aku sempat melirik meja receptionist tetapi tidak ada Tony.Itu tidak penting,tujuanku saat ini adalah kamar Reine.Aku berlari tapi terasa terbang.

“Reeei..... “ ucapanku terhenti seketika.Tangaku yang hendak mengetuk pintu kamar Reine berhenti bergerak.

“Aaaaa ....apa Itu ?” aku mendadak gagap ketika melihat dua buah cahaya bening.Mata...itu mata ! Aku berteriak dalam hati.Mata itu menatapku tajam.Kemudian di bawah mata itu muncul benda runcing berwarna putih berkilau,berjejer rapi, dan sangat banyak.Aku langsung meloncat mundur.Seseosok bayangan hitam berdiri tepat di pintu kamar Reine.Anjing! Itu anjing! Anjing yang sangat mirip dengan patung yang berada di samping Sang Putri.

“Reiiineeeeee....!!! “

Aku berteriak panik dan menubruk bayangan hitam itu.Aku tidak peduli apapun lagi. Telingaku menangkap suara mengeram.Gigi-gigi runcing itu mengarah ke kepalaku.Aku tidak menghidar.Aku ingin mengadu kepalaku dengan giginya,tetapi semua di luar dugaanku.Tidak ada suara benturan,tidak ada rasa sakit,tidak terjadi apapun.Yang ada hanya hawa dingin yang menusuk dadaku.Tubuhku bergetar keras.Hawa dingin tadi berubah menjadi hawa panas dengan begitu cepat.Sangat panas! Seolah api mengalir dalam darahku dan tubuhku tidak mampu menampungnya sampai terasa terbakar.Mataku terasa begitu panas.Tubuhku terasa sangat berbeda.Panas membara dan begitu bergairah.Penuh energi yang siap di lontarkan,tetapi sepertinya otakku tidak kuat menampung energi itu.Perlahan kesadaranku berkurang.
 

****


“Apakah aku bermimpi?” ujarku ketika kesadaran mulai hinggap di tubuhku.Dia luar sudah kelihatan begitu terang.Aku kembali mengingat kejadian semalam.Semua terasa tidak masuk akal.Aku akan memastikanya nanti di Taman Indah.Kalau patung anjing itu masih ada.Berarti aku bermimpi.Simple!

“Reine?” aku langsung teringat pacarku.Walaupun kejadian tadi malam meragukan,tetap saja aku menghawatirkan Reine.Aku berlari ke kamarnya

Clek

Pintu kamarnya tidak terkunci.Aku mengerutkan kening heran.Kupanggil namanya beberapa kali tetapi tidak ada sahutan.Aku cek di kamar mandi, tidak ada! Aku kembali mondar-mandir seperti orang panik. Kemana dia? Kuperhatikan tempat tidurnya.Sangat berantakan.Aku gelisah.Jangan-jangan kejadian kemarin bukan mimpi ? Aku harus ke patung Sang Putri sekarang! Aku bergegas ke arah pintu.

Baru beberapa langkah aku bergerak.Pemandangan di dekat pintu membuatku tertegun.Reine! Dia ada di sana.Wajahnya berseri-seri.Cantik sekali dia hari ini.Aku merasa lega dan langsung mendekapnya.

“Sayang dari mana ? Kamarnya kok enggak kekunci ?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

“Loh.. gimana sih ? Kan Sayang tadi bobo di sini ?”

“Tidur di sini ?” aku mengerutkan alis.

“Hu um ,masa lupa ?” ucapnya manja. Dia kemudian mengelayut di tubuhku.Reine hari ini terlihat agak berbeda.

“Sekarang jam brapa ?”

“Tuh..” ucapnya sambil menunjuk jam dinding.Astaga! Jam 2 Siang.Berarti aku tertidur cukup lama.

“Aku balik ke kamar jam brapa ya?” aku merasa linglung.Reine langsung mengerutkan alis.

“Lho ,kok nanyanya ke Rein sih ? Aku tadi keluar jam 9 pagi .Kasian bangunin Sayang,makanya aku biarin bobo “

“Maksudku balik dari kamarku ke sini, Yang! Kemarin kan aku bobo di kamar “ ucapku.Aku sangat yakin setelah aku bercumbu dengan Reine aku kembali ke kamar untuk menghidari terjadinya hal yang tidak di inginkan.

“Sayang kenapa sih? Kok seperti orang bingung “ ucapnya.”Bukannya Sayang kemarin gak jadi bobo di kamar dan ke sini karena mau kangen-kangenan ?” lanjutnya.

“Ke sini ?”

“Iya ,jam 1 mungkin “ ucapnya cuek.Dia sepertinya tidak ingin meladeniku.Tidak! Jam 1 aku masih di kamar karena terganggu suara aneh itu.Aku ingat sekarang.Kemudian aku pergi ke tempat Patung Sang Putri.Jadi aku tidak mungkin ada di kamar Reine.

“Ooh, kita ngapain aja semalem ?” pancingku.

“Ihhhhh “ wajah Reine tersipu dan memerah.”Masa yang gituan harus di ceritain lagi ?”

“Ceritain lagi dong” aku penasaran.Benar-benar penasaran.Apa lagi dia menyebut kata ‘gituan’.Apa maksudnya ?

“Enggak maauu... Maluuuuu tauuu !!”ucap Reine dengan sok imut.”Aku mau nemuin temen dulu ya, Yang”

Dia melambaikan tangan dan bergegas meninggalkanku.Ada yang berbeda dengan pacarku saat ini.Dia begitu gembira.Terlalu gembira.Aneh! Sangat aneh!

*****

Matahari sudah hampir terbenam.Aku berdiri menatap Patung Sang Putri.Tidak ada yang aneh dan semua lengkap.Kedua patung anjing itu masih ada di sana.Aku anggap semua yang terjadi

Post Comment

About Us

bloger

Cerita Sex dengan Tante Anna

Diawali dengan masuknya aku ke salah satu kampus yang kebetulan memang tempat cita-citaku sebagai ahli komputer. Pada tahun 1994, kepindahanku dari Jakarta Barat ke Bandung, tepatnya aku tinggal di daerah perumahan yang dulu pernah ditinggali kedua orang tuaku, dan sekarang aku tinggal bersama pembantu dan seorang anak kecil.

Beranjak dari kehidupanku

Recent Post